Lewati ke konten utama
REPOSITORY ITEM

Repositori Institusi

Pengembangan cagar budaya di daerah aliran sungai Mahakam kabupaten Kutai Kartanegara dan kota Samarinda

Penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa adanya tumbuh berkembangnya suatu pemukiman dikarenakan adanya interaksi antara hulu dan hilir. Melihat posisinya Sungai Mahakam yang memiliki panjang 920 km dan bermuara di Selat Makassar, menjadikan sungai tersebut sebagai jalur lalu lintas perdagangan di masa lalu. Sarip (2016) menjelaskan bahwa Sejak abad ke 4 Masehi, Sungai Mahakam telah dilintasi para pelaut dari mancanegara, seperti dari India dan Tiongkok yang melakukan aktivitas perdagangan. Hal itu diketahui dari jejak-jejak arkeologi yang ditemukan di Muara Kaman, yang merupakan pusat Kerajaan Kutai Martadipura.Posisi strategis tersebut memungkinkan munculnya permukiman-permukiman yang bisa jadi tumbuh menjadi pusat kerajaan pada masa lalu. Temuan prasasti yupa di Situs Muara Kaman diperkirakan abad ke 4-5. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki peran besar dalam sistem perekonomian, komoditi yang diperdagangkan antara lain emas, gaharu dan barang-barang yang didatangkan dari pedalaman Kalimantan. Posisi kawasan Muara Kaman yang terletak antara daerah luar dan pedalaman, memungkinkan untuk dijadikan pertemuan pedagang yang berasal dari luar Kalimantan dan
dari pedalaman Kalimantan. Penetrasi perdagangan yang diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke 4 tentu memicu berkembangnya pemukiman-pemukiman sepanjang DAS Mahakam

Informasi Detail
Penerbit
Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur
Tahun Terbit
Bahasa
id
ISSN
-
Last Updated
2022-02-18T05:19:59Z
Akses Artikel