Sebelumnya, IPTN sudah memproduksi sederet pesawat dan helikopter dari lisensi yang didapatkan.
Namun, para insinyur IPTN baru pertama terlibat langsung dalam perancangan pesawat di proyek CN 235. Pesawat ini diresmikan pada 1983. Soeharto menamainya Tetuko — nama kecil Gatotkaca. Tetuko bisa digunakan sebagai pesawat pulang-pergi ataupun pesawat angkutan barang dan militer.
Pesawat ini adalah hasil kerja keras ribuan insinyur IPTN dan CASA, perusahaan asal Spanyol. IPTN membuat bagian belakang, ekor, dan bagian luar sayap; sedangkan CASA membuat bagian depan, kokpit, dan bagian dalam sayap.
Mesin CN 235 menghemat 15% bahan bakar dibanding pesawat sejenis dan laku keras di berbagai negara. Kesuksesan Tetuko semakin mendorong BJ Habibie untuk membuat pesawat asli Indonesia.