Perubahan kehidupan pokok dari pertanian ke industri telah mendorong warga masyarakat untuk mengikuti derap pembangunan ini antara lain dengan cara meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan. Di samping itu dari pihak industri juga menuntut untuk mendapatkan buruh/karyawan yang memiliki pendidikan paling rendah Sekolah Dasar, bahkan mulai tahun 1991 persyaratan karyawan ditingkatkan menjadi tamat SLTP. Persyaratan pendidikan ini sejalan dengan peningkatan usia awal kerja. Peningkatan syarat usia untuk bekerja di industri (pabrik tekstil ) disebabkan oleh angka drop out lulus SD yang sangat tinggi. Adanya angka drop out yang tinggi dari Jawa Barat menyebabkan pihak pemerintah untuk berhati-hati memberi izin bekerja kepada anak yang belum selesai SLTP.
Orang-orang yang memiliki perusahaan tekstil di Majalaya umumnya tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup. Hanya beberapa orang saja yang mempunyai pendidikan formal. Pada waktu itu memang tidak perlu dituntut kepandaian tinggi yang utama adalah terampil.
Pada awalnya pengusaha-pengusaha Majalaya yang berhasil di hidang ekonomi bukan karena memiliki pengetahuan yang diperoleh dari sekolah melainkan dari pengalaman langsung dalam kehidupan bermasyarakat.