Semua kategori kegiatan yang terorganisir dalam kelompok-kelompok sosial tradisional tersebut terpolakan dalampranata kerjasama berciri gotong royong. Demikianlah muncul banyak pranata tradisional dengan istilah-istilah lokal yang berbeda atau mirip mengenai berbagai aktivitas sosial-ekonomi, seremoni sacral, kesenian, dan sebagainya yang sama. Sama halnya pada masyarakat pedesaan Indonesia pada umumnya, pranata kerjasama atau gotong royong bagi masyarakat Sulawesi Selatan yang multietnik juga berfungsi meringankan dan menyederhanakan pekerjaan berat dan rumit, yang pada gilirannya memperkuat jiwa kehidupan kolektif dan identitas kesukubangsaan (ethnicity).Sudah dinyatakan pada bagian-bagian sebelumnya bahwa semua bentuk kerjasama gotong royong yang dilakukan oleh komunitas-komunitas desa dari keempat kelompok etnik Bugis,Makassar, Toraja, dan Massenrempulu' berfungsi untuk meringankan dan memudahkan kondisi pekerjaan yang berat dan rumit. Lebih dari fungsi praktis tersebut kegiatan gotong royong juga berfungsi memperkuat jiwa persatuan dan hubungan sosial kekerabatan, pertetanggaan hingga kampong atau desa