Krisis energi listrik yang berkepanjangan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini. Masuknya GI TNR dalam Program 10.000 MW adalah dalam upaya menyelesaikan krisis energi listrik di wilayah ini. Dengan total daya terpasang 771.29 MW dan daya mampu 729.40 MW. Sementara total beban nyata (active) puncak terjadi pada malam hari sudah mencapai 793.4 MW (288.2 MW di Riau, dan 351.0 MW di Sumbar, serta 154.20 MW di Jambi). Sedangkan beban semu (reactive) 202.4 MVAr (70.4 MVAr di Riau, dan 115.4 MVAr di Sumbar, serta 16.60 MVAr di Jambi). Saat ini defisit daya listrik untuk sumbagteng sudah melebihi 164 MW, yang dipasok dari sistem sumbagsel melalui saluran transmisi 150 kV dari GI Lubuk Linggau di Sumatera Selatan ke GI Bangko di Jambi. Penambahan pembangkit baru, akan mengubah sebahagian besar profil sistem ini. Penggunaan Power System Analysis Toolbox (PSAT) dengan algoritma Newton Raphson dapat membatu penyelesaian aliran daya dengan lebih cepat. Penambahan pembangkit baru ini mengakibatkan terjadinya perubahan arah aliran daya khususnya pada sistem Riau. Sistem Riau yang semula defisit menjadi berlebihan energi, sehingga bisa mensuplai ke sistem Sumbar-Jambi. Naiknya profil tegangan pada Gardu Induk (GI) Duri 1,93 kV (1,29%), GI Dumai 1,97 kV (1,32%), dan GI Bagan batu 1,95 kV (1,30%) yang berada dibahagian utara kota Pekanbaru. Naiknya profil tegangan mengakibatkan turunnya rugi-rugi daya pada saluran transmisi.