Kota Pekanbaru merupakan ibukota Provinsi Riau yang menjadi pusat kegiatan
pemerintahan, kegiatan perdagangan dan pusat kegiatan transportasi. Jumlah
penduduk kota Pekanbaru tahun 2024 mencapai 1.123.348 jiwa. Sehingga
pergerakan kendaraan pada jam puncak sering menyebabkan kemacetan. Salah satu
jalan yang memiliki mobilitas tinggi di kota Pekanbaru adalah Simpang Jalan
Rawamangun-Jalan Parit Indah-Jalan Datuk Setia Maharaja-Jalan Labersa atau
lebih dikenal dengan simpang Labersa. Simpang ini merupakan simpang bersinyal
yang berlokasi dijalan Parit indah, jalan Rawamangun, dan jalan Labersa dengan
tipe jalan ini 2 lajur 2 arah tak terbagi (2/2TT) dengan lebar jalur 6m. Jalan Datuk
setia maharaja dengan tipe jalan 2 lajur dua arah tak terbagi (2/2TT) dengan lebar
jalur 12m. Pada saat lampu hijau menyala selama 20 detik kendaraan yang terjaring
oleh lampu lalu lintas tempat pengamatan yang terjebak kemacetan antrian
kendaraan sepanjang 100 m dengan jumlah mobil 40 unit dan sepeda motor 20
unit, pada saat lampu hijau telah berakhir ada mobil yang tertahan sekitar sebanyak
25 unit hal tersebut menimbulkan tundaan, dan mengakibatkan kemacetan bagi
kendaraan yang datang dan akan melintasi simpang tersebut. Tujuan Penelitian
untuk mengevaluasi kinerja simpang labersa. Metode yang dipakai merujuk pada
Pedoman Kapasitas Indonesia (PKJI) 2023. Hasil penelitian didapat volume lalu
lintas maksimum pada hari rabu tanggal 24 April 2024 jam 17.00-18.00 sebesar
7532 kendaraan, kapasitas simpang yang didapat adalah Pendekat Selatan 225
Skr/jam, Pendekat Barat 683 Skr/jam, Pendekat Utara 220 Skr/jam dan Pendekat
Timur 476 Skr/jam. Persimpangan jalan Labersa masih belum mencukupi
kapasitasnya, karena nilai dearajat kejenuhan rata-rata 1,15 > 0,85, Panjang antrian
rata-rata Diperoleh 189,24 m, tundaan rata-rata didapat 442,25 skr/det. Kesimpulan
didapat Tingkat pelayanan simpang jalan Labersa masuk kategori F. Sehingga perlu
dilakukan perubahan geometrik (pelebaran jalan) tanpa merubah fase sinyal yang
ada.