Provinsi Riau memiliki potensi besar dalam produksi tomat, dengan luas
panen meningkat dari 44 ha (2021) menjadi 45 ha (2022) dan produktivitas
mencapai 4,48 ton/ha. Namun, persaingan dengan gulma menjadi kendala utama
dalam optimalisasi hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas
interaksi mulsa cangkang kelapa sawit dan mulsa sekam padi dalam menekan
gulma serta meningkatkan hasil produksi tanaman tomat. Penelitian dilakukan di
kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lancang Kuning, Rumbai, pada
September–Desember 2024. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan
Rancangan Acak Lengkap (RAL), melibatkan dua faktor: ketebalan mulsa
cangkang sawit (0 cm, 2 cm, 4 cm) dan mulsa sekam padi (0 cm, 0,75 cm, 1,5 cm),
masing-masing diulang tiga kali. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman,
diameter batang, jumlah cabang produktif, bobot buah per tanaman, jumlah buah
panen total, serta bobot basah dan kering gulma. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kombinasi mulsa cangkang sawit 4 cm dan sekam padi 1,5 cm (C2S2)
memberikan hasil terbaik, seperti tinggi tanaman tertinggi (67,67 cm), bobot buah
per tanaman tertinggi (1.175,10 g), jumlah buah terbanyak (31,33 buah), serta bobot
kering gulma terendah (41,67 g). Interaksi kedua jenis mulsa berpengaruh nyata
terhadap pertumbuhan tanaman dan penekanan gulma, meskipun tidak signifikan
pada beberapa parameter seperti diameter batang dan jumlah cabang produktif.
Mulsa organik juga membantu memperbaiki struktur tanah, mengurangi evaporasi
air, dan menyediakan nutrisi tambahan bagi tanaman.